Wednesday, June 21, 2017

25 Senandung Islami

           Dalam bulan suci Ramadhan, Warner Music Indonesia kembali memberikan suatu persembahan yang Spesial. Yaitu dirilisnya album bertema lagu-lagu Islami secara digital. Album religi yang bertajuk “25 Senandung Islami” ini bukan sekedar kompilasi tembang-tembang bernuansa Islami pada umumnya. Album ini menarik untuk dimiliki dikarenakan track list di dalam album ini benar-benar disiapkan untuk semua golongan usia. Album ini berisikan lagu-lagu hits Islami dari era 70-an sampai dengan era 2000-an. Album yang akan resmi dirilis secara digial pada tanggal 26 Mei 2017 dan bertepatan dengan hari pertama umat muslim menjalankan ibadah puasa bulan Ramadhan memiliki kelebihan tersendiri antara lain, menikmati tembang-tembang syahdu Islami sekaligus bernostalgia dengan era-era 70 – 80an. Album 25 Senandung Islami bisa dibilang sebagai album kompilasi yang dipersembahkan sebagai album untuk keluarga.

Friday, June 16, 2017

Opick - Allah Bersamamu

                   Di bulan suci Ramadhan tahun ini, Aunur Rofiq Lil Firdaus yang lebih dikenal dengan nama Opick, kembali merilis album. Album berjudul 'Allah Bersamamu' ini menjadi penanda bahwa Opick selalu menemukan cara untuk eksis di momen yang tepat.
"Di album ini ada 10 komposisi (lagu). Judul single-nya itu juga 'Allah Bersamamu," kata Opick saat ditemui di sebuah restoran di kawasan Kemang, Jakarta Selatan.
Proses pengerjaan album 'Allah Bersamamu' memakan waktu kurang lebih 6 bulan. Single 'Allah Bersamamu' sendiri bercerita tentang kesabaran seseorang terhadap masalah yang tengah dihadapinya.
"Saya pikir, semua orang punya derita dan pernah mengalami kesusahan. Saya mau berbicara kalau kesusahan itu adalah karunia dari Allah. Karena ada janji Allah, jiika ada orang yang sabar, maka Allah akan bersamanya," jelasnya.
"Iya, 'Allah Bersamamu' itu tentang kehidupan. Ada yang kalah, ada yang terpuruk. Pokoknya, Allah bersamamu, dalam keadaan apapun'," lanjutnya.
Pria kelahiran Jember, Jawa Timur itu mengemas single 'Allah Bersamamu' dengan apik. Selain mudah untuk dinikmati dan menenteramkan jiwa, 'Allah Bersamamu' adalah lagu khas Opick dengan lirik yang menyentuh.
Penyanyi 43 tahun ini punya alasan kenapa ia selalu merilis album musik bernuansa religi setiap tahunnya. Menurut Opick, semua karena ritme pengerjaan album musiknya.
"Ya, ritmenya begitu. Setelah Ramadhan, kita mulai masuk workshop lagi selama 6 bulan, terus masuk Ramadhan. Kita mixing, kita rilis lagi. Setahun cuma 1 album," ujarnya.
"Saya memang enggak ikutin pasar. Saya percaya apa yang saya inginkan ya, saya tulis. Ya, mudah-mudahan bisa jadi kebaikan buat semuanya. Enggak khusus tentang suatu kejadian juga kok. Misalnya, tentang gubernur. Ya, ngapain saya bikinin?" tambahnya.
Album Allah Bersamamu milik Opick juga diisi berbagai kerja sama. Dia menggandeng beberapa pengisi suara untuk karyanya. Seperti mengajak Ustaz Derry Sulaiman pada lagu Ya Rabbi Ya Allah. Dia mengaku sudah lama mengenal pria yang dulunya adalah mantan gitaris band metal Betrayer.
Tidak hanya itu, Opick juga mengajak dua anaknya masuk menyumbang suara. Kolaborasi terjadi pada lagu Bertabur RahmatNya. Beberapa lagu lain yang menghiasi album Allah Bersamamu adalah Di Pintu CintaMu, Allah, Kutemukan Cinta, Terjagalah, Allah Bersamamu, dan lainnya.

Wednesday, April 19, 2017

Judika - Judika

Penyanyi Judika telah merilis album keenamnya. Album ini akan berbeda dari lima album yang pernah dirilisnya.

"Jadi biasanya dari album pertama sampai kelima itu gua selalu ada judulnya. Orang kan biasanya album pertama self titled, tapi gue di album keenam self titled," kata Judika saat ditemui di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

"Ini menggambarkan keseluruhan gue sebagai Judika," kata Judika saat menjelaskan alasan memberi judul album dengan nama sendiri.

Judika mengatakan akan ada 10 lagu di dalam album tersebut. Lirik lagu-lagu dalam album itu tetap membicarakan unsur kehidupan yang dibalut dengan cinta.

Menurut Judika, yang istimewa dari album ini adalah keterlibatan penggemarnya. Mereka dilibatkan Judika untuk ikut meramu lirik yang ditulisnya.

"Gue ingin fans bisa dapat sesuatu dari karier gue. Karena selama ini mereka yang support, tapi sekarang gua pengin mereka juga bisa sukses melalui karya gua," ucapnya.

Selain sebagai apresiasi kepada penggemarnya. Rupanya ada motivasi lain yang ingin dibuat pelantun lagu "Aku Yang Tersakiti" tersebut.

"Gua bawa lagu mereka ke industri musik. Siapa tahu itu bisa berhasil dan mereka bisa jadi pencipta lagu," ujarnya.

Rossa - A New Chapter

Menginjak 21 tahun kariernya di dunia musik Indonesia, Penyanyi Rossa akhirnya kembali merilis album terbaru di 2017. Album berjudul “A New Chapter” ini akan berisi sembilan lagu yang di antaranya diciptakan oleh tiga musisi kenamaan di dunia internasional.

“Album ini saya kasih judul A New Chapter karena memang hampir seluruhnya nuansanya baru, musiknya, pencipta lagunya, dan aransemennya saya bikin lebih kekinian,” terang Rossa disela-sela peluncuran album barunya di kawasan Kemang, Jakarta Selatan.

Dalam album ini, penyanyi berusia 38 tahun ini membawakan beberapa lagu dengan jenis berbeda. Lagu Body Speak contohnya yang mencampurkan unsur pop dengan sentuhan EDM yang kental. Rossa membenarkan memang jika lagu-lagu yang ada di album barunya ini berikan warna berbeda untuk dirinya.

"Banget (memberi warna yang beda). Jadi kalau buat aku kayak Body Speak, Break It Up itu memang lagu yang baru. Apalagi dengan Bahasa Inggris. Jadi cara menyanyinya juga lain," ungkap Rossa saat acara peluncuran album A NEW CHAPTER, bilangan Kemang, Jakarta Selatan

Dengan album ini, Rossa pun berharap agar para penggemarnya bisa merasakan sesuatu yang baru dan lebih segar dari dirinya.Rossa menjamin penggemarnya tidak bakal bosan.

Monday, February 27, 2017

Jamrud - 80's

Sepanjang tahun 2016, Panggung musik rock masih tetap menjadi magnit bagi anak muda dan salah satu group rock papan atas yang menjadi bintang utama konser musik masih didominasi kelompok musik " JAMRUD " dari Cimahi.

Menurut Log Zhelebour pimpinan Jamrud management, Mereka tampil sebagai line up utama Festival Musik terbesar seperti " Soundrenaline " dan " Telkomsel Maxcited ", Tercatat juga sebagai bintang utama konser tour " Soundstation " di Sulawesi, Sumut dan " Go Go Go Bareng " di Jabar yang sukses memikat penggemar rock dari lintas generasi.

Log Zhelebour yang membidani lahirnya " Jamrud " dan memproduksi album rekamannya sejak tahun 1995, selama 21 tahun bekerjasama sudah melahirkan 10 Volume Album dan Single, dengan formasi vokalis Krisyanto, yang terdiri dari Nekad, Putri, Terima Kasih, Ningrat, Sydney 090102, BO 18+, All Access in Love, Energi+ dari Bumi dan Langit, Saatnya Menang, dan Album terbaru yang ke 10 diberi titel " 80's " yang akan drills pada Bulan Februari 2017.
Konsep musik di album terbaru ini menurut Azis MS sebagai pencipta lagu dan music director Jamrud akan didominasi musik Hard Rock di era tahun 1980an, Jamrud ingin memperkenalkan kapada generasi anak muda jaman sekarang bagaimana musik rock di jaman mereka masih muda dan pada saat itu musik Hard Rock lagi merajai musik dunia seperti Led Zeppelin, Deep Purple dll.

Album " 80's " berisi materi 10 lagu baru : 1. Bangun, Bangun, Bangun  2. Kotaku 80's  3. Biawak dan Tikus Tanah  4. Kau ada Untukku  5. Beri Aku Waktu  6. Kyoto Breeze  7. Dehidrasi  8. Nasihat Untuk Kawan  9. Pergi Kemana Kau Mau  10. God Gave Rock & Roll to Me dan bonus track 1 lagu akustik " Bayang dirimu "

Monday, December 26, 2016

Beetleflux - Smaerd

              Unit dream pop kota medan, beetleflux, merilis album terbaru yang bertajuk "Smaerd" yang dirayakan dalam gelaran Smaerd Record Release Showcase. Album yang berisi 9 lagu ini, resmi diluncurkan di penghujung oktober silam, bertempat di lantai 2 Manna House Jalan Cut Mutia, Medan.

Melalui pesta peluncuran Smaerd ini, Beetleflux menyampaikan rasa senangnya. "Malam ini perasaannya senang, alhamdulilah, teman teman ternyata mengapresiasi, senang lah," ujar Aulia. Aulia bercerita, album ini sudah dipersiapkan sejak dua tahun lalu. Namun baru bisa terwujud sekarang. Menurut Aulia, proses rekaman ini sendiri yang cukup memakan waktu. "Proses pengerjaannya setahun dari Oktober tahun lalu, kita rekaman di dua studio, di Reza Home Record dan AM Studio, supaya dapat hasil yang kita mau," tambah Aulia.

Smaerd sendiri bercerita tentang mimpi cita cita yang menjadi nyata. Smaerd sebenarnya adalah kebalikan dari kata Dreams yang berarti mimpi. "Smaerd itu dari kata dreams yang dibalik, jadi itu adalah mimpi yang dibalik jadi kenyataan, jadi kayak mimpi yang diubah jadi kenyataan," ujar Fahrin.

Lagu ini banyak terinspirasi dari kejadian kejadian sehari hari yang dimulai dari mimpi para personil. Selain itu, Smaerd juga berisi tentang pertemanan. "Lagu ini juga berisi tentang cerita lahirnya Zizou, anak pertama saya," Aulia menambahkan.   
Materi materi ini pun dikonversikan Beetlflux menjadi lagu. Mendengarkan lagu lagu Beetleflux secara live malam itu, dengan paduan nada nada yang menghanyutkan dikombinasikan suara vokal, serasa masuk ke dimensi lain. Dekorasi venue pun mendukung aksi quartet dream pop ini.

Thursday, December 22, 2016

Stars and Rabbit - Live at Societet Militair

Setelah sukses melangsungkan konser Grow di Yogyakarta pada Januari lalu, kini Stars and Rabbit  telah merilis album live baru berjudul Live at Societet Militair dalam format digital dan kaset. Bahkan dua buah video yang menampilkan rekaman konser tersebut sudah mereka unggah di kanal YouTube Stars and Rabbit.

Konser ini merupakan sebuah pencapaian bagi Stars and Rabbit setelah melewati banyak hal bersama selama hampir 5 tahun. “Kami putuskan untuk diselenggarakan di Yogyakarta karena kami merasa berhutang banyak dengan kota ini. Khususnya saat fase terbentuknya musik Stars and Rabbit,” ungkap Elda.

Ditemani oleh tiga musisi tambahan, bassist Alam Segara, drummer Andi Irfanto, dan keyboardist Vicky Unggul, waktu itu Stars and Rabbit membawakan total 14 lagu yang diambil dari album Constellation beserta beberapa materi baru dan cover, namun kemudian mereka memutuskan hanya merilis 8 lagu saja dalam album live tersebut.

“Konser Grow di Yogyakarta merupakan momen spesial bagi Stars and Rabbit, oleh karena itu kami ingin membagikan suasana konser tersebut khususnya bagi yang tidak sempat hadir atau tidak kebagian tiket pada malam itu. Semoga cuplikan konser ini bisa mengobati sekaligus menjadi titik baru bagi Stars and Rabbit untuk lebih baik lagi dimasa mendatang,” tutup Adi.

Wednesday, December 21, 2016

Tika & The Dissidents - Merah

              Grup band asal Jakarta, Tika & The Dissidents akhirnya merilis album pertama mereka bertajuk Merah yang memakan proses pembuatan selama 3 tahun.

Dalam album merah ini, Tika & The Dissidents menyajikan lagu-lagu yang berisi mengenai isu-isu sosial yang berada di kalangan masyarakat.

Dua diantaranya mengangkat mengenai isu mengenai gender.

"Ada 7 lagu dan dua diantaranya mengangkat mengenai isu gender. Single pertama kita, Tubuhku Otoritasku itu tentang isu gender, sama Pukul rata. Sisanya masih tentang isu-isu sosial sih," ujar Tika yang ditemui dikawasan Kemang, Jakarta Selatan.

Tika mengaku menyukai definisi dari warna merah, sehingga ia dan band sepakat untuk menamai album mereka, Merah. Ia juga ingin kelak orang-orang akan mengklaim warna  merah untuk album perdananya.

"Saya tertarik sama definisi warna merah di kamus bahasa Inggris. Bahwa itu kayak keadaan darurat, perlawanan, terus warna yang dianggap sebagai pembangkangan, terus banyak juga hal-hal yang dikaitkan dengan warna merah. Jadi saya ingin orang-orang mengklaim warna itu untuk album ini," ungkapnya.

Eva Celia - And so It Begins

Penantian panjang Eva Celia akhirnya terbayar sudah. Dua tahun lamanya bergelut dalam proses, sosok 23 tahun ini akhirnya resmi merilis debut albumnya yang bertajuk “And So It Begins”. Bukan sekadar album musik semata, album ini merupakan sebuah karya sekaligus pembuktian dari seorang Eva Celia dalam menunjukan dirinya yang memiliki cara menyampaikan sesuatu melalui musik dan lirik.

Totalitas dalam meramu musiknya, Eva Celia turun langsung dalam setiap titik perjalanan debut album “And So It Begins” ini. Delapan materi lagu yang telah ditetapkan, seluruhnya adalah lagu-lagu yang ditulisnya sendiri. Perempuan yang juga dikenal sebagai aktris layar lebar ini mencoba meletakkan pesan tersendiri dalam setiap kata yang ditulisnya hingga menjadi kesatuan lirik yang utuh. Memberikan gambaran secara keseluruhan, album ini tepatnya akan berbicara tentang hal positif.

Inti dari apa yang saya tulis di album ini adalah berbicara tentang sesuatu yang positif dan penuh harapan. Dari sekian banyak cerita atau kejadian tentang kekecewaan dan kekerasan, saya ingin mengembalikan ke benang merah dimana kita seharusnya ada di sana, yaitu cinta. Sikap menerima, sabar dan kebaikan. Bagaimana kita bisa melatih unsur-unsur tersebut di tengah kehidupan yang kita jalani sehari-hari,” ungkap Eva Celia tentang albumnya.

Dukungan juga datang dari beragam pihak untuk membuat album “And So It Begins” ini mencapai ke kualitas yang diinginkan. Sejumlah musisi juga turut andil di dalam prosesnya, sebut saja Tendra Leonard (GRUVI), Aldhan Prasatya, Demas Narawangsa hingga musisi yang aling dekat dengan sosok Eva Celia, tidak lain adalah sang ayah, Indra Lesmana. Tidak hanya mereka saja, Eva Celia patut berbangga hati karena dalam debut albumnya ia sukses berkolaborasi dengan Justin Stanton dan Mark Letteri, dua personel dari salah satu grup musik favoritnya, Snarky Puppy yang tidak lain adalah grup musik instrumental kenamaan asal New York, Amerika Serikat. Berkat social media, keinginan yang seakan mustahil itu akhirnya pun terjadi.

Tuesday, December 20, 2016

Shaggydog - Putra Nusantara

                  Grup musik asal Yogyakarta, Shaggydog, merilis album baru bertajuk "Putra Nusantara", bertepatan dengan perayaan kemerdekaan Indonesia ke-71. Selain merilis album ke 6, haggydog juga merilis video clip dari single utamanya Putra Nusantara.
Di lansir dari situs Metrotvnews, alasan memilih nama albumnya Putra Nusantara ialah "Putra Nusantara itu sebenarnya lagu lama, sudah pernah kami rilis dalam album kompilasi di majalah Hai, tahun 2006 kalau tidak salah. Lalu kami rekam ulang. Lagu itu kami ciptakan untuk mengingat pentingnya pendidikan untuk anak-anak Indonesia. Yang terjadi selama ini pendidikan belum merata di semua pelosok. Manurut kami pendidikan itu fondasi dari segalanya."

"Kalau secara kata, catchy. Kedua, ada beberapa lagu yang bertema sosial. Ada lagu tentang perselisihan agama, lalu ada tentang rakyat biasa yang cuma bisa jadi penonton gejolak politik," terang Heru.

Tercatat beberapa anggota band lain semisal Riri “Everyday”, Danar “Souljah” dan juga musisi kawakan seperti Iwa K dan Sudjiwo Tedjo ikut andil dalam album baru ini. Berisi 12 lagu yang di kemas semaksimalkan mungkin kualitas rekaman album ini. Mereka melakukan proses mastering di studio Abbey Road, Inggris, oleh Andy Walter yang pernah menangani U2, Coldplay, The Cure, David Bowie dan Radiohead

Dari segi visual, Putra Nusantara cukup eksentrik dengan menampilkan gambar skesta sosok pria flamboyan bernama Santo Brengos, atau akrab disapa para personel Shaggydog sebagai Pakde Santo. Adalah seniman Agan Harahap yang membuat sketsa Pakde Santo untuk sampul album Putra Nusantara.

"Pakde Santo itu bapaknya Richard, dia sudah seperti Pakde-nya anak-anak. Beliau memiliki personallity yang unik. Dia suka blues dan mantan petinju. Secara visual juga keren, eksentriknya dapat. Agan juga setuju menggambarkan kembali dengan teknik sketsa."

The Changcuters - Binauralis

                  Nama The Changcuters bisa saja udah tidak asing lagi di telinga para penikmat musik Indonesia. Band asal Bandung ini dibentuk pada tahun 2005 dengan para personel Tria, Qibil, Alda, Dipa, dan Erick. Sampai kala ini mereka masihlah kompak bersama dengan formasi ini dan belum sempat berganti personel.

Sebagai band yang cukup lama terjun di industri musik tanah air, puluhan karya telah hadir dari tangan dingin mereka. Di tahun 2016 ini mereka bahkan sudah mempersiapkan suatu album bertema ‘Binauralis’ untuk menjaga eksistensinya didunia hiburan Indonesia.

Sebelum album tersebut diluncurkan, The Changcuters telah memberikan pemanasan terhadap para penggemarnya melalui satu buah single berjudul ‘Hmmm.. sudah Kuduga’. Satu Buah single bersama judul unik yang mereka launcing buat memberikan gambaran tentang album mereka nantinya.
Menurut Tria dan teman-teman, album ‘Binauralis’ ini adalah sekuel dari album pada awal mulanya yang bertopik ‘Visualis’. Nantinya bakal ada trilogi album yang bakal mereka merilis buat melengkapi album ‘Visualis’ dan ‘Binauralis’.

Menciptakan trilogi album bersama gagasan yang saling berhubungan bukanlah faktor yang gampang. Mereka mesti memberikan sesuatu yang baru, tetapi mesti harus berhubungan dengan album diawal mulanya. Faktor inilah yang jadi tantangan bagi pelantun tembang I Love You Bibeh ini kedepannya.

“Konsepnya trilogi album ini dari ‘Visualis’, ‘Binauralis’ dan album sesudahnya mau menunjukkan seperti apa musik The  Changcuters yang sebenarnya. membuat kita ingin bikin musik yang khas The Changcuters,” ungkap mereka.

Juga Sebagai band yang senantiasa hadir bersama konsep musik yang unik, The Changcuters menjanjikan kejutan buat para pendengarnya di album ini. Mereka belum ingin bilang seperti apa kejutan yang dapat diberikan, tapi yang terang janji mereka layak dinanti.

Selain musik, The Changcuters ternama bersama fashion dan tampilan di atas panggung yang memukau. Nyaris tiap-tiap album baru, mereka senantiasa tampil bersama kostum yang tidak sama.

Mereka seakan tidak mau menampilkan factor yang sama seperti apa yang telah mereka lakukan , dalam wawancara bebera waktu yang lalu The Changcuters bercerita tentang album baru serta pemilihan single yang mempunyai judul unik.

Monday, December 19, 2016

Mondo Gascaro - RAJAKELANA

Mondo Gascaro akhirnya merilis album penuh perdana "Rajakelana" setelah mengundurkan diri dari band SORE sekitar dua tahun silam.

Rajakelana bermakna "angin", terinspirasi dari syair lagu "Rayuan Pulau Kelapa" karya Ismail Marzuki. Dalam keterangan pers dari Whistle Media, disebut bahwa makna dari "Rajakelana" dirasa mampu membalut jiwa album ini secara keseluruhan.

Sebelumnya, Mondo merilis single "Saturday Night" dan "Komorebi" pada awal 2015 dalam format digital dan piringan hitam 7 inci.  Dia kembali merilis single pada 20 Mei silam, berjudul "A Deacon's Summer".

"Rajakelana" yang berisi 10 lagu ini dirilis dalam format digital, sedangkan format fisiknya menyusul bulan depan.

Rajakelana menyuguhkan sejumlah kekhasan, mulai dari erotika, irama tropikal Brasil, pop Jepang, soft rock - AOR, Indonesiana, hingga pembagian harmonisasi a la Brian Wilson. 

Bagi Mondo, album ini adalah perjalanan selebrasi, cerita tentang eksplorasi, kebebasan, tentang hijrah.

Album ini berisi empat lagu berbahasa Indonesia, empat lagu berbahasa Inggris dan dua lagu instrumental. Mondo menggarapnya di lebih dari 10 studio rekaman dan melibatkan sejumlah musisi seperti Bonita Adi, Alexandria Deni, Jay Afrisando dan Aprilia Apsari "White Shoes and the Couples Company".

Mondo diiringi oleh pasukan tetapnya yang terdiri dari Dimas A. Pradipta (drum), Petrus Bayu Prabowo (gitar bas), Lafa Pratomo (gitar) dan Belanegara Abimanyu (perkusi).

Banda Neira - Yang Patah Hilang, Yang Tumbuh Berganti

               Duo Ananda Badudu dan Rara Sekar, Banda Neira, akhirnya merilis versi fisik Album kedua mereka, selang dua pekan setelah meluncurkan album ‘Yang Patah Tumbuh, yang Hilang Berganti’ dalam format digital, di bawah label rekaman Sorge Records. Ada dua cakram padat (CD) dalam rilisan fisik terbaru dari Banda Neira. CD pertama diberi judul Yang Patah Tumbuh dan yang kedua Yang Hilang Berganti. Banda Neira mengeluarkan rilisan cakram ganda karena satu keping tak cukup untuk menampung 15 lagu yang ada pada album kedua mereka. “Durasinya sampai 120 menit,” kata Ananda Badudu.

Kali ini Banda Neira melibatkan banyak musisi tamu untuk memperkaya musik mereka, di antaranya komponis Gardika Gigih, musisi astral Layur, dan trio dawai Suta Suma Pangekshi, Jeremia Kimosabe, serta Dwi Ari Ramlan. “Kami ingin membuat sesuatu yang berbeda dibanding album pertama,” kata Rara.

“Dari segi musik dan instrumentasi, kami lebih banyak berkiblat pada pentas kolaborasi Kita Sama-sama Suka Hujan ketimbang album pertama Berjalan Lebih Jauh,” kata Ananda.

Rentang pengumpulan materi album terbaru Banda Neira memakan waktu yang lebih panjang dibanding album pertama. 10 materi dalam Berjalan Lebih Jauh dibikin selama enam bulan. Sementara pengumpulan 15 materi dalam album kedua ini berlangsung selama tiga tahun. “Ada lagu yang dibikin tiga tahun lalu, ada juga yang baru selesai pada hari H rekaman,” kata Rara.

Album kedua mereka terdiri dari dua CD. Pada CD pertama, yang dinamakan CD Yang Patah Tumbuh, terdapat delapan lagu. “Itu adalah lagu-lagu yang lumayan riang,” kata Rara Sekar. Banda Neira berpatokan pada nuansa lagu dalam membagi-bagi lagu. Lagu-lagu yang terdengar riang bersahaja ditempatkan di CD pertama. “Yang terdengar berat dan lirih ditaruh di CD dua,” kata Rara. Dalam CD kedua, alias CD Yang Hilang Berganti, terdapat tujuh lagu yang menurut Banda Neira nuansanya lebih dalam dan kontemplatif.

Banda Neira mengajak ilustrator Feransis untuk menjadi desainer artistik keseluruhan album. Gambar-gambar yang terdapat dalam CD seluruhnya adalah gambar Feransis, ilustrator yang juga menangani desain album pertama Banda Neira.

Friday, December 16, 2016

Adhita Sofyan - Silver Painted Radiance

                   Musisi, penyanyi dan penulis lagu Adhitia Sofyan emang dikenal dengan lagu-lagu akustiknya yang bikin otot lemes dan santai. Suaranya yang tipis, petikan gitarnya dan melodi yang diciptainnya selalu bikin semua yang dengerin langsung sukses terbuai.
Silver Painted Radiance adalah album keempat Adithia. Sebelumnya, doi udah ngerilis tiga album dengan nuansa minimalis. Tapi di album ini, doi kayanya pengen nyoba sesuatu yang baru. Musisi yang udah melanglang buana sampe ke negri matahari terbit ini kayanya udah gak pengen dibilang sebaai bedroom musician yang cuma gitar-gitaran, upload ke soundcloud, trus bikin album.

Kali ini, dirinya pengen nyoba atmosfer musik yang baru, format baru. Ada band pendukung yang mengiringi dia, dari drum, bass, organ, piano yang kesemuanya direkam yang pastinya bukan di kamar tidurnya, karena mungkin kami bayangin gak bakal cukup menampung semua instrumen ini.

Kali ini, dirinya harus beradaptasi sama studio musik, gimana membuat studio yang besar dengan control room bisa dibuat senyaman kamar tidur di malam hari - waktu terbaik dimana ia bisa merekam semua musik yang ada di kepalanya.

Meski dengan band pengiring, bukan berarti Adhitia Sofyan menjadi orang lain. Dia tetaplah orang yang sama, namun kali ini, lewat album terbarunya, Adhitia cuma pengen kamu yang dengerin lebih senyum, ketawa dan nyanyi bareng, mungkin sambil goyang kepala karena beat drum, bisa jadi dansa berdua bareng pasangan ketimbang manyun sendirian.

Monday, November 7, 2016

Lingua - Mampu Bertahan

            Trio vokal Lingua kembali meramaikan belantika musik Indonesia setelah vakum selama 16 tahun dengan meluncurkan album terbarunya yang bertajuk "Mampu Bertahan".
Lingua yang beranggotakan Tuwuhadijatesih Amaranggana (Amara), Francois Mohede (Frans) dan Arie Widiawan Riadi (Arie) sempat menjadi pelopor dalam trio vokal di Tanah Air. Trio vokal ini terbentuk pada 1996 dan berhasil menggebrak industri musik dengan lagu andalannya "Bila Ku Ingat" dan "Jangan Kau Henti".
Frans mengatakan, albumnya kali ini melibatkan sejumlah nama besar dalam industri musik seperti pemain harpa, Maya Hasan, Dodi Is (Kahitna) yang menjadi pengarah vokal bagi trio dan Iwan Noorsaid ikut terlibat sebagai penata musik keseluruhan karya terbaru Lingua.
Lamanya Lingua vakum dari industri musik karena kesibukan para personelnya. Untuk kembali ke belantika musik Indonesia, Frans sendiri terpaksa harus membuat produk dengan label sendiri yakni Lingua Musik Indonesia.
Lingua tidak pernah lepas dari tiga hal yang menjadi perhatian khusus yakni pilihan lagu, aransemen vokal dan video klip.
Pada 1998 Lingua kembali menelurkan karyanya, album "Bintang" dengan lagu hits "Tak 'kan Habis Cintaku". Kemudian dilanjutkan dengan album "Aku" yang merupakan "repackage" pada 1999 dengan lagu hits "Aku".
Hingga kini, Lingua bertahan dengan format awal, yakni Amara, Frans dan Arie.

Friday, August 5, 2016

Tulus - Monokrom

Penyanyi Tulus secara resmi telah meluncurkan album ketiganya yang bertajuk "Monokrom". Album terbaru ini berisi sepuluh lagu dengan single andalan 'Pamit' dan 'Ruang Sendiri' dan didukung oleh brand kosmetik Wardah.
Kepada rekan media, Tulus mengungkapkan perasaannya setelah berhasil merampungkan album ketiganya.
“Rasanya lega banget. Setelah melewati proses album yang cukup lama karena dibarengi dengan kegiatan yang lain. Akhirnya, hari ini resmi rilis,” kata
Tulus yang mempersiapkan album ini dalam kurun waktu satu hingga satu setengah tahun.
Jadwal yang padat tidak lantas membuat Tulus jadi molor mengerjakan album. Penyanyi kelahiran Bukittinggi, Sumatera Barat ini selalu menyediakan waktu untuk mengerjakan album Monokrom.
“Bukan mengerjakan album di sisa waktu, tapi menyediakan waktu. Misalkan dalam satu bulan, saya selama satu minggu ke studionya Bang Ari (penata musik dan produser). Kita kerjakan bareng-bareng. Teknologi juga sekarang memungkinkan kita melakukan segala sesuatu,” lanjut Tulus.
Tulus kembali menulis lirik dan melodi hampir seluruh lagu di album Monokrom. Selain itu, lima lagu dalam album ini juga diproduksi di kota Praha, Ceko, Eropa.
“Praha dipilih karena sudah ada koneksi dengan kita. Jadi prosesnya lebih mudah,” kata Tulus.

Friday, July 29, 2016

Matter Halo - Aerotiva

Akhirnya duo yang terdiri dari Ibnu Dian (vokal/gitar/mandolin/flute) dan Ganidra Rai (bass/synth-bass/backing vocal/floor), merilis album perdana mereka Aerotiva.
Dengan mengusung jenis musik aeronautical folk, yakni jenis musik ambient yang mengajak puluhan penonton pada malam tersebut seolah terbang dan menari di udara.
Dalam album Aerotiva ini, Matter Halo menyebut genre musiknya Aeronautical Folk; musik ambient yang bisa memberi kesan seperti ‘terbang dan menari di udara’ kepada para pendengar, dan ‘folk’ karena adanya unsur etnik yang merepresentasikan musik khas Indonesia yang mereka tuangkan baik secara musik atau vokal.
Dalam penggarapan album ini, Matter Halo bekerjasama dengan Bam Mastro sebagai produser. Bam sebelumnya bekerjasama dengan solois Neonomora dan juga dikenal sebagai frontman dari band Elephant Kind. Sedangkan untuk album artwork, Matter Halo berkolaborasi dengan Ernanda Putra.

Monday, June 27, 2016

D'Masiv - D'Masiv with Raef

Tahun ini, untuk pertama kalinya, D’Masiv akan menghadirkan album religi. Mereka akan membawakan lagu-lagu bertema Islami. Kabarnya album religi tersebut akan diluncurkan sebelum bulan Ramadhan tahun 2016.
“Ramadhan ini kami membuat lagu religi, untuk pertama kalinya kami menyanyikan lagu yang Islami banget,” ungkap Vokalis D’Masiv, Rian Ekky Pradipta atau dikenal sebagai Rian D'Masiv.
Demi peluncuran album religinya ini, Rian dan anggota band D’Masiv lainnya berusaha menjaga sikapnya. Menjadi lebih santun. Bahkan untuk kostumnya sekalipun. Walaupun mereka tidak pernah berpakaian yang aneh-aneh, tapi paling tidak mereka akan hadir dengan pakaian sopan.
Album religi menjadi kesempatan D’Masiv untuk melebarkan segmen mereka. “Kita tahu Islam kan mayoritas di sini, yang kita tahu Maher Zein kan besar, dia bisa manggung dimana-mana.

Sunday, June 26, 2016

Delon - DEKADE

Sepuluh tahun sudah Delon berkarya di dunia musik. Untuk merayakan perjalanan kariernya tersebut, penyanyi kelahiran 20 Mei 1978 ini merilis sebuah album berjudul Dekade, yang memiliki arti Dedikasi Karya Delon.
Delon mengungkapkan, album ini adalah kumpulan lagu terlengkap yang pernah ia nyanyikan. Penyanyi jebolan sebuah ajang pencarian bakat itu pun ingin membuktikan bahwa ia dapat dikenal sebagai penyanyi dengan konsep yang lebih serius.
“Album ini gue banget. Kalau dulu gue bikin lagu atau album masih diatur, tapi sekarang album ini bisa disebut dengan full of soul, jadi lebih bebas dan dewasa,” ujar Delon.
Album yang dikerjakan dalam kurun waktu satu tahun itu, memiliki tiga lagu yang jauh dari kebiasaan delon. Ketiga lagu tersebut, Delon nyanyikan dengan tempo yang lebih medium beat. 
“Album ini sebagai perayaan satu dekade. Makanya saya ingin buat sesuatu yang berbeda, saya tidak ingin orang mengenal Delon hanya bisa menyanyikan lagu yang melow,” jelas suami Yesline Wang ini.
Delon pun bangga karena dapat bertahan selama 10 tahun di dunia musik. Menurut pemilik nama lengkap Stanislaus Alexander Liauw Delon Thamrin ini, untuk bertahan selama itu tidak lah mudah, karena pasar industri musik Indonesia yang selalau naik dan turun.
“Bangga banget, kok bisa ya. Gue sendiri enggak percaya ya, ini pencapaian tertinggi buat gue. Bertahan itu enggak gampang, banyak lika-likunya. Susah banget bersyukur masih bisa mengeluarkan karya,” tutur Delon.

Christabel Annora - Talking Days

Album pertama milik penyanyi dan pianis berbakat asal kota Malang ini berisi total tiga belas lagu, termasuk lagu kover “Desember” milik Efek Rumah Kaca yang digubah dalam komposisi piano yang lebih lembut dan tenang.
Christabel Annora cukup lama berkecimpung dalam kancah musik independen di kota Malang. Ia pernah membentuk band bernama Get Panic, serta sering membantu sejumlah band/musisi lokal di atas pentas maupun sesi studio rekaman – mulai dari The Morning After, Ajer, Folkapolka, hingga Earth of Heaven. Dalam karir solonya, Christabel Annora sempat merilis satu singel berjudul “If These Walls Could Talk” yang dimuat dalam album Kompilasi Sepi rilisan Barongsai Records, dua tahun silam.
Proses penggarapan album Talking Days ini memakan waktu sekitar dua tahun. Semua sesi rekaman dikerjakan secara bertahap di dua studio musik di kota Malang, yaitu di Nero Studio oleh Bambang Iswanto (The Morning After) dan di Minorcubes Studio oleh Bie Paksi (Wake Up Iris!).
Di album ini, Christabel Annora mengajak beberapa nama musisi kota Malang untuk mengisi bagian-bagian tertentu dalam musiknya. Seperti misalnya Octavianus Triangga (cello), Timotius Lalompoh (violin), dan Steffani BPM (glockenspiel) yang diajak di beberapa track. Ketiganya juga kerap membantu Christabel Annora sebagai live-session musicians ketika manggung.
Selain itu, juga ada Iksan Skuter yang mengisi solo gitar pada “Rindu Itu Keras Kepala”, Oneding (SATCF) yang ikut menyanyi dan memainkan gitar akustik pada “Ini Sementara”, serta Bambang Iswanto (The Morning After) menyumbang ruang ambience lewat petikan gitarnya pada lagu “Lucid Dream”.
“Karena temanya kemungkinan juga bakal ditemui oleh teman-teman, semoga lagu-lagu saya di album ini bisa jadi inspirasi,” harap Christabel Annora yang belakangan juga direkrut sebagai live-session pianist untuk aksi panggung unit indie pop/folk terkemuka, Payung Teduh. “Siapa tahu album ini bisa menumbuhkan semangat atau membantu kita untuk introspeksi diri.”.