Monday, December 26, 2016

Beetleflux - Smaerd

              Unit dream pop kota medan, beetleflux, merilis album terbaru yang bertajuk "Smaerd" yang dirayakan dalam gelaran Smaerd Record Release Showcase. Album yang berisi 9 lagu ini, resmi diluncurkan di penghujung oktober silam, bertempat di lantai 2 Manna House Jalan Cut Mutia, Medan.

Melalui pesta peluncuran Smaerd ini, Beetleflux menyampaikan rasa senangnya. "Malam ini perasaannya senang, alhamdulilah, teman teman ternyata mengapresiasi, senang lah," ujar Aulia. Aulia bercerita, album ini sudah dipersiapkan sejak dua tahun lalu. Namun baru bisa terwujud sekarang. Menurut Aulia, proses rekaman ini sendiri yang cukup memakan waktu. "Proses pengerjaannya setahun dari Oktober tahun lalu, kita rekaman di dua studio, di Reza Home Record dan AM Studio, supaya dapat hasil yang kita mau," tambah Aulia.

Smaerd sendiri bercerita tentang mimpi cita cita yang menjadi nyata. Smaerd sebenarnya adalah kebalikan dari kata Dreams yang berarti mimpi. "Smaerd itu dari kata dreams yang dibalik, jadi itu adalah mimpi yang dibalik jadi kenyataan, jadi kayak mimpi yang diubah jadi kenyataan," ujar Fahrin.

Lagu ini banyak terinspirasi dari kejadian kejadian sehari hari yang dimulai dari mimpi para personil. Selain itu, Smaerd juga berisi tentang pertemanan. "Lagu ini juga berisi tentang cerita lahirnya Zizou, anak pertama saya," Aulia menambahkan.   
Materi materi ini pun dikonversikan Beetlflux menjadi lagu. Mendengarkan lagu lagu Beetleflux secara live malam itu, dengan paduan nada nada yang menghanyutkan dikombinasikan suara vokal, serasa masuk ke dimensi lain. Dekorasi venue pun mendukung aksi quartet dream pop ini.

Thursday, December 22, 2016

Stars and Rabbit - Live at Societet Militair

Setelah sukses melangsungkan konser Grow di Yogyakarta pada Januari lalu, kini Stars and Rabbit  telah merilis album live baru berjudul Live at Societet Militair dalam format digital dan kaset. Bahkan dua buah video yang menampilkan rekaman konser tersebut sudah mereka unggah di kanal YouTube Stars and Rabbit.

Konser ini merupakan sebuah pencapaian bagi Stars and Rabbit setelah melewati banyak hal bersama selama hampir 5 tahun. “Kami putuskan untuk diselenggarakan di Yogyakarta karena kami merasa berhutang banyak dengan kota ini. Khususnya saat fase terbentuknya musik Stars and Rabbit,” ungkap Elda.

Ditemani oleh tiga musisi tambahan, bassist Alam Segara, drummer Andi Irfanto, dan keyboardist Vicky Unggul, waktu itu Stars and Rabbit membawakan total 14 lagu yang diambil dari album Constellation beserta beberapa materi baru dan cover, namun kemudian mereka memutuskan hanya merilis 8 lagu saja dalam album live tersebut.

“Konser Grow di Yogyakarta merupakan momen spesial bagi Stars and Rabbit, oleh karena itu kami ingin membagikan suasana konser tersebut khususnya bagi yang tidak sempat hadir atau tidak kebagian tiket pada malam itu. Semoga cuplikan konser ini bisa mengobati sekaligus menjadi titik baru bagi Stars and Rabbit untuk lebih baik lagi dimasa mendatang,” tutup Adi.

Wednesday, December 21, 2016

Tika & The Dissidents - Merah

              Grup band asal Jakarta, Tika & The Dissidents akhirnya merilis album pertama mereka bertajuk Merah yang memakan proses pembuatan selama 3 tahun.

Dalam album merah ini, Tika & The Dissidents menyajikan lagu-lagu yang berisi mengenai isu-isu sosial yang berada di kalangan masyarakat.

Dua diantaranya mengangkat mengenai isu mengenai gender.

"Ada 7 lagu dan dua diantaranya mengangkat mengenai isu gender. Single pertama kita, Tubuhku Otoritasku itu tentang isu gender, sama Pukul rata. Sisanya masih tentang isu-isu sosial sih," ujar Tika yang ditemui dikawasan Kemang, Jakarta Selatan.

Tika mengaku menyukai definisi dari warna merah, sehingga ia dan band sepakat untuk menamai album mereka, Merah. Ia juga ingin kelak orang-orang akan mengklaim warna  merah untuk album perdananya.

"Saya tertarik sama definisi warna merah di kamus bahasa Inggris. Bahwa itu kayak keadaan darurat, perlawanan, terus warna yang dianggap sebagai pembangkangan, terus banyak juga hal-hal yang dikaitkan dengan warna merah. Jadi saya ingin orang-orang mengklaim warna itu untuk album ini," ungkapnya.

Eva Celia - And so It Begins

Penantian panjang Eva Celia akhirnya terbayar sudah. Dua tahun lamanya bergelut dalam proses, sosok 23 tahun ini akhirnya resmi merilis debut albumnya yang bertajuk “And So It Begins”. Bukan sekadar album musik semata, album ini merupakan sebuah karya sekaligus pembuktian dari seorang Eva Celia dalam menunjukan dirinya yang memiliki cara menyampaikan sesuatu melalui musik dan lirik.

Totalitas dalam meramu musiknya, Eva Celia turun langsung dalam setiap titik perjalanan debut album “And So It Begins” ini. Delapan materi lagu yang telah ditetapkan, seluruhnya adalah lagu-lagu yang ditulisnya sendiri. Perempuan yang juga dikenal sebagai aktris layar lebar ini mencoba meletakkan pesan tersendiri dalam setiap kata yang ditulisnya hingga menjadi kesatuan lirik yang utuh. Memberikan gambaran secara keseluruhan, album ini tepatnya akan berbicara tentang hal positif.

Inti dari apa yang saya tulis di album ini adalah berbicara tentang sesuatu yang positif dan penuh harapan. Dari sekian banyak cerita atau kejadian tentang kekecewaan dan kekerasan, saya ingin mengembalikan ke benang merah dimana kita seharusnya ada di sana, yaitu cinta. Sikap menerima, sabar dan kebaikan. Bagaimana kita bisa melatih unsur-unsur tersebut di tengah kehidupan yang kita jalani sehari-hari,” ungkap Eva Celia tentang albumnya.

Dukungan juga datang dari beragam pihak untuk membuat album “And So It Begins” ini mencapai ke kualitas yang diinginkan. Sejumlah musisi juga turut andil di dalam prosesnya, sebut saja Tendra Leonard (GRUVI), Aldhan Prasatya, Demas Narawangsa hingga musisi yang aling dekat dengan sosok Eva Celia, tidak lain adalah sang ayah, Indra Lesmana. Tidak hanya mereka saja, Eva Celia patut berbangga hati karena dalam debut albumnya ia sukses berkolaborasi dengan Justin Stanton dan Mark Letteri, dua personel dari salah satu grup musik favoritnya, Snarky Puppy yang tidak lain adalah grup musik instrumental kenamaan asal New York, Amerika Serikat. Berkat social media, keinginan yang seakan mustahil itu akhirnya pun terjadi.

Tuesday, December 20, 2016

Shaggydog - Putra Nusantara

                  Grup musik asal Yogyakarta, Shaggydog, merilis album baru bertajuk "Putra Nusantara", bertepatan dengan perayaan kemerdekaan Indonesia ke-71. Selain merilis album ke 6, haggydog juga merilis video clip dari single utamanya Putra Nusantara.
Di lansir dari situs Metrotvnews, alasan memilih nama albumnya Putra Nusantara ialah "Putra Nusantara itu sebenarnya lagu lama, sudah pernah kami rilis dalam album kompilasi di majalah Hai, tahun 2006 kalau tidak salah. Lalu kami rekam ulang. Lagu itu kami ciptakan untuk mengingat pentingnya pendidikan untuk anak-anak Indonesia. Yang terjadi selama ini pendidikan belum merata di semua pelosok. Manurut kami pendidikan itu fondasi dari segalanya."

"Kalau secara kata, catchy. Kedua, ada beberapa lagu yang bertema sosial. Ada lagu tentang perselisihan agama, lalu ada tentang rakyat biasa yang cuma bisa jadi penonton gejolak politik," terang Heru.

Tercatat beberapa anggota band lain semisal Riri “Everyday”, Danar “Souljah” dan juga musisi kawakan seperti Iwa K dan Sudjiwo Tedjo ikut andil dalam album baru ini. Berisi 12 lagu yang di kemas semaksimalkan mungkin kualitas rekaman album ini. Mereka melakukan proses mastering di studio Abbey Road, Inggris, oleh Andy Walter yang pernah menangani U2, Coldplay, The Cure, David Bowie dan Radiohead

Dari segi visual, Putra Nusantara cukup eksentrik dengan menampilkan gambar skesta sosok pria flamboyan bernama Santo Brengos, atau akrab disapa para personel Shaggydog sebagai Pakde Santo. Adalah seniman Agan Harahap yang membuat sketsa Pakde Santo untuk sampul album Putra Nusantara.

"Pakde Santo itu bapaknya Richard, dia sudah seperti Pakde-nya anak-anak. Beliau memiliki personallity yang unik. Dia suka blues dan mantan petinju. Secara visual juga keren, eksentriknya dapat. Agan juga setuju menggambarkan kembali dengan teknik sketsa."

The Changcuters - Binauralis

                  Nama The Changcuters bisa saja udah tidak asing lagi di telinga para penikmat musik Indonesia. Band asal Bandung ini dibentuk pada tahun 2005 dengan para personel Tria, Qibil, Alda, Dipa, dan Erick. Sampai kala ini mereka masihlah kompak bersama dengan formasi ini dan belum sempat berganti personel.

Sebagai band yang cukup lama terjun di industri musik tanah air, puluhan karya telah hadir dari tangan dingin mereka. Di tahun 2016 ini mereka bahkan sudah mempersiapkan suatu album bertema ‘Binauralis’ untuk menjaga eksistensinya didunia hiburan Indonesia.

Sebelum album tersebut diluncurkan, The Changcuters telah memberikan pemanasan terhadap para penggemarnya melalui satu buah single berjudul ‘Hmmm.. sudah Kuduga’. Satu Buah single bersama judul unik yang mereka launcing buat memberikan gambaran tentang album mereka nantinya.
Menurut Tria dan teman-teman, album ‘Binauralis’ ini adalah sekuel dari album pada awal mulanya yang bertopik ‘Visualis’. Nantinya bakal ada trilogi album yang bakal mereka merilis buat melengkapi album ‘Visualis’ dan ‘Binauralis’.

Menciptakan trilogi album bersama gagasan yang saling berhubungan bukanlah faktor yang gampang. Mereka mesti memberikan sesuatu yang baru, tetapi mesti harus berhubungan dengan album diawal mulanya. Faktor inilah yang jadi tantangan bagi pelantun tembang I Love You Bibeh ini kedepannya.

“Konsepnya trilogi album ini dari ‘Visualis’, ‘Binauralis’ dan album sesudahnya mau menunjukkan seperti apa musik The  Changcuters yang sebenarnya. membuat kita ingin bikin musik yang khas The Changcuters,” ungkap mereka.

Juga Sebagai band yang senantiasa hadir bersama konsep musik yang unik, The Changcuters menjanjikan kejutan buat para pendengarnya di album ini. Mereka belum ingin bilang seperti apa kejutan yang dapat diberikan, tapi yang terang janji mereka layak dinanti.

Selain musik, The Changcuters ternama bersama fashion dan tampilan di atas panggung yang memukau. Nyaris tiap-tiap album baru, mereka senantiasa tampil bersama kostum yang tidak sama.

Mereka seakan tidak mau menampilkan factor yang sama seperti apa yang telah mereka lakukan , dalam wawancara bebera waktu yang lalu The Changcuters bercerita tentang album baru serta pemilihan single yang mempunyai judul unik.

Monday, December 19, 2016

Mondo Gascaro - RAJAKELANA

Mondo Gascaro akhirnya merilis album penuh perdana "Rajakelana" setelah mengundurkan diri dari band SORE sekitar dua tahun silam.

Rajakelana bermakna "angin", terinspirasi dari syair lagu "Rayuan Pulau Kelapa" karya Ismail Marzuki. Dalam keterangan pers dari Whistle Media, disebut bahwa makna dari "Rajakelana" dirasa mampu membalut jiwa album ini secara keseluruhan.

Sebelumnya, Mondo merilis single "Saturday Night" dan "Komorebi" pada awal 2015 dalam format digital dan piringan hitam 7 inci.  Dia kembali merilis single pada 20 Mei silam, berjudul "A Deacon's Summer".

"Rajakelana" yang berisi 10 lagu ini dirilis dalam format digital, sedangkan format fisiknya menyusul bulan depan.

Rajakelana menyuguhkan sejumlah kekhasan, mulai dari erotika, irama tropikal Brasil, pop Jepang, soft rock - AOR, Indonesiana, hingga pembagian harmonisasi a la Brian Wilson. 

Bagi Mondo, album ini adalah perjalanan selebrasi, cerita tentang eksplorasi, kebebasan, tentang hijrah.

Album ini berisi empat lagu berbahasa Indonesia, empat lagu berbahasa Inggris dan dua lagu instrumental. Mondo menggarapnya di lebih dari 10 studio rekaman dan melibatkan sejumlah musisi seperti Bonita Adi, Alexandria Deni, Jay Afrisando dan Aprilia Apsari "White Shoes and the Couples Company".

Mondo diiringi oleh pasukan tetapnya yang terdiri dari Dimas A. Pradipta (drum), Petrus Bayu Prabowo (gitar bas), Lafa Pratomo (gitar) dan Belanegara Abimanyu (perkusi).

Banda Neira - Yang Patah Hilang, Yang Tumbuh Berganti

               Duo Ananda Badudu dan Rara Sekar, Banda Neira, akhirnya merilis versi fisik Album kedua mereka, selang dua pekan setelah meluncurkan album ‘Yang Patah Tumbuh, yang Hilang Berganti’ dalam format digital, di bawah label rekaman Sorge Records. Ada dua cakram padat (CD) dalam rilisan fisik terbaru dari Banda Neira. CD pertama diberi judul Yang Patah Tumbuh dan yang kedua Yang Hilang Berganti. Banda Neira mengeluarkan rilisan cakram ganda karena satu keping tak cukup untuk menampung 15 lagu yang ada pada album kedua mereka. “Durasinya sampai 120 menit,” kata Ananda Badudu.

Kali ini Banda Neira melibatkan banyak musisi tamu untuk memperkaya musik mereka, di antaranya komponis Gardika Gigih, musisi astral Layur, dan trio dawai Suta Suma Pangekshi, Jeremia Kimosabe, serta Dwi Ari Ramlan. “Kami ingin membuat sesuatu yang berbeda dibanding album pertama,” kata Rara.

“Dari segi musik dan instrumentasi, kami lebih banyak berkiblat pada pentas kolaborasi Kita Sama-sama Suka Hujan ketimbang album pertama Berjalan Lebih Jauh,” kata Ananda.

Rentang pengumpulan materi album terbaru Banda Neira memakan waktu yang lebih panjang dibanding album pertama. 10 materi dalam Berjalan Lebih Jauh dibikin selama enam bulan. Sementara pengumpulan 15 materi dalam album kedua ini berlangsung selama tiga tahun. “Ada lagu yang dibikin tiga tahun lalu, ada juga yang baru selesai pada hari H rekaman,” kata Rara.

Album kedua mereka terdiri dari dua CD. Pada CD pertama, yang dinamakan CD Yang Patah Tumbuh, terdapat delapan lagu. “Itu adalah lagu-lagu yang lumayan riang,” kata Rara Sekar. Banda Neira berpatokan pada nuansa lagu dalam membagi-bagi lagu. Lagu-lagu yang terdengar riang bersahaja ditempatkan di CD pertama. “Yang terdengar berat dan lirih ditaruh di CD dua,” kata Rara. Dalam CD kedua, alias CD Yang Hilang Berganti, terdapat tujuh lagu yang menurut Banda Neira nuansanya lebih dalam dan kontemplatif.

Banda Neira mengajak ilustrator Feransis untuk menjadi desainer artistik keseluruhan album. Gambar-gambar yang terdapat dalam CD seluruhnya adalah gambar Feransis, ilustrator yang juga menangani desain album pertama Banda Neira.

Friday, December 16, 2016

Adhita Sofyan - Silver Painted Radiance

                   Musisi, penyanyi dan penulis lagu Adhitia Sofyan emang dikenal dengan lagu-lagu akustiknya yang bikin otot lemes dan santai. Suaranya yang tipis, petikan gitarnya dan melodi yang diciptainnya selalu bikin semua yang dengerin langsung sukses terbuai.
Silver Painted Radiance adalah album keempat Adithia. Sebelumnya, doi udah ngerilis tiga album dengan nuansa minimalis. Tapi di album ini, doi kayanya pengen nyoba sesuatu yang baru. Musisi yang udah melanglang buana sampe ke negri matahari terbit ini kayanya udah gak pengen dibilang sebaai bedroom musician yang cuma gitar-gitaran, upload ke soundcloud, trus bikin album.

Kali ini, dirinya pengen nyoba atmosfer musik yang baru, format baru. Ada band pendukung yang mengiringi dia, dari drum, bass, organ, piano yang kesemuanya direkam yang pastinya bukan di kamar tidurnya, karena mungkin kami bayangin gak bakal cukup menampung semua instrumen ini.

Kali ini, dirinya harus beradaptasi sama studio musik, gimana membuat studio yang besar dengan control room bisa dibuat senyaman kamar tidur di malam hari - waktu terbaik dimana ia bisa merekam semua musik yang ada di kepalanya.

Meski dengan band pengiring, bukan berarti Adhitia Sofyan menjadi orang lain. Dia tetaplah orang yang sama, namun kali ini, lewat album terbarunya, Adhitia cuma pengen kamu yang dengerin lebih senyum, ketawa dan nyanyi bareng, mungkin sambil goyang kepala karena beat drum, bisa jadi dansa berdua bareng pasangan ketimbang manyun sendirian.

Monday, November 7, 2016

Isyana Sarasvati - EXPLORE! (Special Edition)

Isyana Sarasvati baru saja merilis album "Explore!" edisi spesial. "Explore!" sendiri sebenarnya sudah pernah dirilis pada November 2015. Namun bedanya, Isyana menggandeng Cornetto dalam peluncurannya kali ini.
"Explore!" edisi spesial ini berisi satu karya terbaru Isyana. Selain itu, ada juga lagu hits lawasnya yang diarasemen ulang.
Melalui Instagram, Isyana memperkenalkan judul single anyarnya kepada fans. "Halo semua, album terbaruku 'EXPLORE!' Special Edition udah rilis!," sapanya penuh ceria. "Ada 1 lagu baru, 'Cinta Pertama', 'Tetap Dalam Jiwa' (Piano Version) dan 'Keep Being You' (Remix)."

Lingua - Mampu Bertahan

            Trio vokal Lingua kembali meramaikan belantika musik Indonesia setelah vakum selama 16 tahun dengan meluncurkan album terbarunya yang bertajuk "Mampu Bertahan".
Lingua yang beranggotakan Tuwuhadijatesih Amaranggana (Amara), Francois Mohede (Frans) dan Arie Widiawan Riadi (Arie) sempat menjadi pelopor dalam trio vokal di Tanah Air. Trio vokal ini terbentuk pada 1996 dan berhasil menggebrak industri musik dengan lagu andalannya "Bila Ku Ingat" dan "Jangan Kau Henti".
Frans mengatakan, albumnya kali ini melibatkan sejumlah nama besar dalam industri musik seperti pemain harpa, Maya Hasan, Dodi Is (Kahitna) yang menjadi pengarah vokal bagi trio dan Iwan Noorsaid ikut terlibat sebagai penata musik keseluruhan karya terbaru Lingua.
Lamanya Lingua vakum dari industri musik karena kesibukan para personelnya. Untuk kembali ke belantika musik Indonesia, Frans sendiri terpaksa harus membuat produk dengan label sendiri yakni Lingua Musik Indonesia.
Lingua tidak pernah lepas dari tiga hal yang menjadi perhatian khusus yakni pilihan lagu, aransemen vokal dan video klip.
Pada 1998 Lingua kembali menelurkan karyanya, album "Bintang" dengan lagu hits "Tak 'kan Habis Cintaku". Kemudian dilanjutkan dengan album "Aku" yang merupakan "repackage" pada 1999 dengan lagu hits "Aku".
Hingga kini, Lingua bertahan dengan format awal, yakni Amara, Frans dan Arie.

Friday, August 5, 2016

Tulus - Monokrom

Penyanyi Tulus secara resmi telah meluncurkan album ketiganya yang bertajuk "Monokrom". Album terbaru ini berisi sepuluh lagu dengan single andalan 'Pamit' dan 'Ruang Sendiri' dan didukung oleh brand kosmetik Wardah.
Kepada rekan media, Tulus mengungkapkan perasaannya setelah berhasil merampungkan album ketiganya.
“Rasanya lega banget. Setelah melewati proses album yang cukup lama karena dibarengi dengan kegiatan yang lain. Akhirnya, hari ini resmi rilis,” kata
Tulus yang mempersiapkan album ini dalam kurun waktu satu hingga satu setengah tahun.
Jadwal yang padat tidak lantas membuat Tulus jadi molor mengerjakan album. Penyanyi kelahiran Bukittinggi, Sumatera Barat ini selalu menyediakan waktu untuk mengerjakan album Monokrom.
“Bukan mengerjakan album di sisa waktu, tapi menyediakan waktu. Misalkan dalam satu bulan, saya selama satu minggu ke studionya Bang Ari (penata musik dan produser). Kita kerjakan bareng-bareng. Teknologi juga sekarang memungkinkan kita melakukan segala sesuatu,” lanjut Tulus.
Tulus kembali menulis lirik dan melodi hampir seluruh lagu di album Monokrom. Selain itu, lima lagu dalam album ini juga diproduksi di kota Praha, Ceko, Eropa.
“Praha dipilih karena sudah ada koneksi dengan kita. Jadi prosesnya lebih mudah,” kata Tulus.

Monday, June 27, 2016

D'Masiv - D'Masiv with Raef

Tahun ini, untuk pertama kalinya, D’Masiv akan menghadirkan album religi. Mereka akan membawakan lagu-lagu bertema Islami. Kabarnya album religi tersebut akan diluncurkan sebelum bulan Ramadhan tahun 2016.
“Ramadhan ini kami membuat lagu religi, untuk pertama kalinya kami menyanyikan lagu yang Islami banget,” ungkap Vokalis D’Masiv, Rian Ekky Pradipta atau dikenal sebagai Rian D'Masiv.
Demi peluncuran album religinya ini, Rian dan anggota band D’Masiv lainnya berusaha menjaga sikapnya. Menjadi lebih santun. Bahkan untuk kostumnya sekalipun. Walaupun mereka tidak pernah berpakaian yang aneh-aneh, tapi paling tidak mereka akan hadir dengan pakaian sopan.
Album religi menjadi kesempatan D’Masiv untuk melebarkan segmen mereka. “Kita tahu Islam kan mayoritas di sini, yang kita tahu Maher Zein kan besar, dia bisa manggung dimana-mana.

Sunday, June 26, 2016

Delon - DEKADE

Sepuluh tahun sudah Delon berkarya di dunia musik. Untuk merayakan perjalanan kariernya tersebut, penyanyi kelahiran 20 Mei 1978 ini merilis sebuah album berjudul Dekade, yang memiliki arti Dedikasi Karya Delon.
Delon mengungkapkan, album ini adalah kumpulan lagu terlengkap yang pernah ia nyanyikan. Penyanyi jebolan sebuah ajang pencarian bakat itu pun ingin membuktikan bahwa ia dapat dikenal sebagai penyanyi dengan konsep yang lebih serius.
“Album ini gue banget. Kalau dulu gue bikin lagu atau album masih diatur, tapi sekarang album ini bisa disebut dengan full of soul, jadi lebih bebas dan dewasa,” ujar Delon.
Album yang dikerjakan dalam kurun waktu satu tahun itu, memiliki tiga lagu yang jauh dari kebiasaan delon. Ketiga lagu tersebut, Delon nyanyikan dengan tempo yang lebih medium beat. 
“Album ini sebagai perayaan satu dekade. Makanya saya ingin buat sesuatu yang berbeda, saya tidak ingin orang mengenal Delon hanya bisa menyanyikan lagu yang melow,” jelas suami Yesline Wang ini.
Delon pun bangga karena dapat bertahan selama 10 tahun di dunia musik. Menurut pemilik nama lengkap Stanislaus Alexander Liauw Delon Thamrin ini, untuk bertahan selama itu tidak lah mudah, karena pasar industri musik Indonesia yang selalau naik dan turun.
“Bangga banget, kok bisa ya. Gue sendiri enggak percaya ya, ini pencapaian tertinggi buat gue. Bertahan itu enggak gampang, banyak lika-likunya. Susah banget bersyukur masih bisa mengeluarkan karya,” tutur Delon.

Christabel Annora - Talking Days

Album pertama milik penyanyi dan pianis berbakat asal kota Malang ini berisi total tiga belas lagu, termasuk lagu kover “Desember” milik Efek Rumah Kaca yang digubah dalam komposisi piano yang lebih lembut dan tenang.
Christabel Annora cukup lama berkecimpung dalam kancah musik independen di kota Malang. Ia pernah membentuk band bernama Get Panic, serta sering membantu sejumlah band/musisi lokal di atas pentas maupun sesi studio rekaman – mulai dari The Morning After, Ajer, Folkapolka, hingga Earth of Heaven. Dalam karir solonya, Christabel Annora sempat merilis satu singel berjudul “If These Walls Could Talk” yang dimuat dalam album Kompilasi Sepi rilisan Barongsai Records, dua tahun silam.
Proses penggarapan album Talking Days ini memakan waktu sekitar dua tahun. Semua sesi rekaman dikerjakan secara bertahap di dua studio musik di kota Malang, yaitu di Nero Studio oleh Bambang Iswanto (The Morning After) dan di Minorcubes Studio oleh Bie Paksi (Wake Up Iris!).
Di album ini, Christabel Annora mengajak beberapa nama musisi kota Malang untuk mengisi bagian-bagian tertentu dalam musiknya. Seperti misalnya Octavianus Triangga (cello), Timotius Lalompoh (violin), dan Steffani BPM (glockenspiel) yang diajak di beberapa track. Ketiganya juga kerap membantu Christabel Annora sebagai live-session musicians ketika manggung.
Selain itu, juga ada Iksan Skuter yang mengisi solo gitar pada “Rindu Itu Keras Kepala”, Oneding (SATCF) yang ikut menyanyi dan memainkan gitar akustik pada “Ini Sementara”, serta Bambang Iswanto (The Morning After) menyumbang ruang ambience lewat petikan gitarnya pada lagu “Lucid Dream”.
“Karena temanya kemungkinan juga bakal ditemui oleh teman-teman, semoga lagu-lagu saya di album ini bisa jadi inspirasi,” harap Christabel Annora yang belakangan juga direkrut sebagai live-session pianist untuk aksi panggung unit indie pop/folk terkemuka, Payung Teduh. “Siapa tahu album ini bisa menumbuhkan semangat atau membantu kita untuk introspeksi diri.”.

Tuesday, May 24, 2016

NOAH - Sings Legends

NOAH telah merilis album baru yang bertajuk "Sings Legend". Album tersebut berisi lagu-lagu kompilasi dari musisi legendaris era 60-90an.
Album ini berisi 8 komposisi, yakni Andaikan Kau Datang (Koes Plus), Sajadah Panjang (Bimbo), Biarlah Ku Sendiri (Koes Plus), Tinggalah Ku Sendiri (Nike Ardilla), Cinta Bukan Dusta (Rinto Harahap), Sendiri Lagi (Ryan Kyoto), Kupu-kupu Malam (Titiek Puspa), dan Kisah Cintaku (Chrisye). Album ini dipersembahkan sebagai rasa hormat kepada karya-karya musisi hebat Indonesia.
Inspirasi untuk album “Sings Legend” didasari oleh seringnya NOAH menyanyikan ulang lagu-lagu lawas yang ternyata disambut positif pecinta musik generasi sekarang. Nantinya, album tersebut akan berisi setidaknya delapan tembang lawas yang direkam ulang.
“Kita pernah nyanyiin beberapa lagu legendaris Indonesia. Salah satunya lagu Kupu-Kupu Malam milik eyang Titiek Puspa, ada Kisah Cintaku yang dinyanyiin sama om Chrisye tapi ciptaannya Tito Sumarsono, lagu Sendiri Lagi (milik) Ryan Kiyoto. Itu ada tiga. Terakhir kita ikut serta juga dalam pembuatan lagu albumnya almarhum Rinto Harahap. Jadi ada empat,” jelas Ariel. Secara kebetulan lagu lawas seperti “Sajadah Panjang” dari Bimbo juga sering mereka bawakan saat tampil, hanya saja belum pernah mereka rekam.
“Salah satu cara menghormati musisi Indonesia yang dulu adalah dengan ini (membuat album legend). Makanya harus kurun waktu tahun 60 hingga 90an biar dapat legendnya,” tutur sang vokalis Ariel .

Tuesday, May 17, 2016

Sarasvati - Ratimaya

                Sarasvati, band asal Bandung yang beranggotakan 8 orang personil ini tak pernah absen membuat album. Entah mini album, full album, ataupun album kolaborasi. Tercatat sudah 4 album yang dihasilkan, sepanjang 5 tahun perjalanan karier bermusik mereka. Antara lain Story of Peter (2010), Mirror (2012), Sunyaruri (2013), Ballades (kolaborasi dengan Gran Kino 2015).
Selama hampir 6 bulan, mereka meramu sebuah album baru yang akan diluncurkan pada tanggal 1 Oktober 2015 dengan konsep konser musik teatrikal di  Sasana Budaya Ganesha, Bandung. Album ini berjudul “Ratimaya Sarasvati”, yang artinya Bayangan Keindahan. Yang menarik dari album ini adalah konsep pengemasan lagu di dalamnya. Ada sebuah benang merah yang akhirnya menghubungkan 10 lagu yang ada di album baru ini. Sebuah sosok fiktif bernama Ratimaya diangkat menjadi jarum yang menjahit benang album ini. Tak hanya itu, di album ini Sarasvati juga berkreasi membuat  Audio Book yang menjadi penghantar antar lagu.
Ada yang menarik disini, album ini tak lagi soal hantu. “Ini adalah cita-cita kami sejak lama,” ungkap Risa mewakili personil lainnya.
Demajors didaulat menjadi label dari album terbaru Sarasvati. Label musik independent ini berani menaungi Sarasvati yang sebelumnya tak pernah berada di bawah naungan label. Ini akan menjadi sebuah album yang baru, dan tentu saja, segar. Musik yang didominasi piano, string, kecapi, suling dan nada-nada minor, masih menjadi menu utama dalam album ini. Lirik lagu pun beranekaragam, setengahnya persen bahasa indonesia, sisanya berbahasa Inggris dan sunda.
Sarasvati dulu adalah project solo dari sang vokalis yang bernama Risa Saraswati. Nama belakang Risa juga yang mengilhami nama belakang ini. Sarasvati adalah tulisan Sanskrit dari Saraswati. Seiring berjalannya waktu, Sarasvati yang sempat berubah-ubah formasi akhirnya memutuskan untuk dikukuhkan sebagai sebuah band. Dengan formasi akhir band ini adalah Risa Saraswati (Vokal), Marshella Safira (Vokal Latar), Hinhin Akew (Gitar), Gallang perdhana (Bass), Gigi Priadji (Sequencer), Papay Soleh (Drum), Kevin Rinaldi (Kibor), dan Iman Jimbot (Kecapi & Suling).
Musik Sarasvati yang didominasi piano, string, kecapi suling, dan nada-nada minor masih menjadi menu utama dalam album ini. Lirik lagu pun beranekaragam, 50% bahasa indonesia, 45% bahasa Inggris, dan 5 persen bahasa sunda. Tercatat di album sebelumnya Sarasvati mengajak beberapa nama musisi untuk berkolaborasi, antara lain Tulus, Cholil ERK, Dewa Budjana, dan Ink Rosemary. Di album ini Sarasvati mendaulat Anji dan Agung Burgerkill untuk berkolaborasi di dua lagu mereka. Yang tak kalah menarik, di album ini Sarasvati mengaransemen sebuah lagu milik Homogenic, band yang pernah membesarkan nama Risa Saraswati (vokal) sebelum membentuk Sarasvati.

Friday, May 13, 2016

Chiki Fawzi - Dimulai Dari Mimpi

                 Industri musik Indonesia kembali diramaikan dengan penyanyi solo wanita bersuara emas yaitu Chiki Fawzi lewat debut album perdananya yang diberi judul "Dimulai Dari Mimpi".
Putri musisi Ikang Fawzi tersebut mengaku hanya bermodal keinginannya yang kuat untuk membuat album tersebut.
Dalam album tersebut, berisikan 8 lagu. Hebatnya semua lagu tersebut merupakan hasil torehan Chiki sendiri di mana bertujuan untuk memberi motivasi kepada orang-orang untuk berani merealisasikan mimpinya.
"Album ini berjudul DIMULAI DARI MIMPI, lewat album ini aku ingin mengajak orang-orang untuk berani bermimpi dan berani merealisasikannya," jelas dara kelahiran 28 Januari 1989.
Saking bahagianya, Chiki mengibaratkan album tersebut seperti bisul lama yang akhirnya pecah. "Ibaratnya kayak telor pecah. Bisul pecah," kata Chiki seraya tertawa.
Semangat yang ia sampaikan melalui albumnya itu menggambarkan semangat dirinya, yang telah meraih cita-citanya menjadi seorang animator dan mulai mewujudkan mimpinya untuk menjadi artis musik.
Dibantu oleh vokalis band Barasuara, Iga Massardi, selaku produser, Chiki menyanyikan delapan lagu ciptaannya sendiri dalam album popnya tersebut.
"2014 awal mulai rekaman. Album self release kan semua harus dipikirkan sendiri. Untuk satu lagu aku kasih denger produserku dulu, terus aransemen bareng. Cari player, latihan, terus masuk dapur rekaman," ceritanya.
"Jadi, satu lagu makan waktu dua sampai tiga bulan, karena semua sibuk. Rekamannya sih satu lagu dua shift atau 12 jam. Proses semuanya dua tahunan," jelasnya.
Chiki mulai berkarier di bidang seni dengan menjadi animator untuk seri kartun produksi Malaysia, Upin & Ipin, dari musim tayang ketiga hingga kelima.
Sesudah membuat perusahaan animasi sendiri bersama rekan-rekannya, Chiki akhirnya mulai mencoba menyalurkan bakat musiknya lewat syair-syair lagu yang ia tulis pada 2014.

Saturday, April 23, 2016

Raisa - Handmade


                Raisa Andriana, telah merilis album terbarunya berjudul Handmade. Handmade berisikan sebelas lagu pop yang beragam. Beberapa nomor seperti “Sang Rembulan”, “Letting You Go”, hingga “Nyawa dan Harapan” terdengar memiliki warna musik yang cukup jauh berbeda ketimbang karya-karya Raisa di album sebelumnya yaitu Raisa (2011) dan Heart to Heart (2013).

Raisa menggelar kegiatan exclusive hearing album Handmade. Di acara tersebut dihadiri oleh dua puluh YouRaisa (sebutan penggemar Raisa) beruntung yang juga pelanggan aktif dari layanan music streaming Langit Musik. Selain beruntung dapat mendengarkan materi album Handmade untuk pertama kalinya, dua puluh penggemar Raisa yang hadir di acara tersebut juga mendapat boxset Handmade secara cuma-cuma

Lewat akun Facebook resmi Raisa, album Handmade dalam format boxset diumumkan sudah resmi habis terjual. Hingga berita ini dituliskan, belum ada kabar baik dari pihak label rekaman Juni Records maupun Raisa langsung apakah kuota boxset Handmade akan ditambah dan kembali dijual. Raisa sendiri akan melakukan peluncuran album Handmade pada 27 April mendatang di Ciputra Artpreneur, Jakarta. Peluncuran album tersebut hanya dapat disaksikan khusus untuk para pembeli boxset Handmade.

Di album terbarunya ini, Raisa memiliki kontribusi lebih banyak dalam menciptakan lagu ketimbang di dua album sebelumnya. Diakuinya sembilan dari sebelas lagu merupakan ciptaan Raisa sendiri. Album Handmade mengedepankan lagu “Kali Kedua” sebagai single perdananya. Selain materi-materi baru, ada pun dua single yang sebelumnya sudah beredar seperti “Percayalah” dan “Jatuh Hati”.

Friday, March 18, 2016

VA. Melody Chrisye

               Bagi para penikmat musik tanah air khususnya para penggemar Chrisye, akan segera disuguhkan sebuah sajian menarik dalam bentuk album kompilasi bertajuk Melody Chrisye.
 Album ini menampilkan lagu-lagu hits dari almarhum Chrisye yang pernah dinyanyikan, yang tentunya album ini berisikan 10 lagu pilihan. Lagu utamanya di album ini ialah Aku Cinta Dia karya Vidi Aldiano.
Dalam album Melody Chrisye, terdapat salah satu lagu yang menjadi lagu favoritnya berjudul Kisah Insani. Lagu yang dipopulerkan oleh Chrisye bersama Vina Panduwinata pada tahun 1984 ini akan dibawakan ulang dengan format lebih fresh oleh Adly Fairuz dan Dian Anjani.